Story by Dandi Darmawan Well.. klo bicara soal FIAT, merek mobil yang satu ini punya kenangan tersendiri bagi saya. Dengan FIAT lah saya belajar mengendarai mobil waktu SMP dahulu. Denger-denger seh bokap meminang FIAT tersebut cukup dengan mahar Rp 350 ribu rupiah saja. Lumayan lah untuk harga ditahun 90-an awal. Tipe FIAT-nya yaitu FIAT 1100. Hehe...tapi lucu juga yach klo dipikir-pikir beli mobil cuman segitu harganya. Malah bokap cerita pernah beli mobil harganya cuman dibawah 100 rb alias cuman puluhan ribu doang cuuyy. Tapi ga tau tahun kapan dan mobil apaan. Ini mobil lumayan bandel juga. Maklum mobil buat belajar mobil, jadi-nya yach gitu deh, gasrak-gusruk. Kadang kebablasan nyusruk ke semak-semak, kadang ampe mental-mentul ngebut dijalan offroad, dll. Tapi baik-baik aja tuh mobil. Sampai akhirnya lumayan bisa lah mengendarai mobil, thanx to F-1100 ini. Belakangan sempet juga bokap make FIAT 850 spesial. Setelah itu lamaaaaaa ga denger (ga ngeh) lagi tentang FIAT. Sampai suatu ketika obrolan dalam lift dikantor, tentang teman yg bangga banget dengan UNO Selecta-nya. Dia bilang ini mobil kecil yg ga ada tampang bisa lari, tapi ternyata larinya kuenceng banget. Udah gitu irit lagi bensinnya. Dari obrolan itu, saya kok jadi mulai kepikiran FIAT terus yach. Maka mulailah proses ta'aruf.. perkenalan..khususnya dengan UNO. Ga niat untuk meminang, sekedar ingin lebih mengenal saja. Tapi lama2 kok malah seringnya ngelirik yg kUNO. Sampai akhirnya saya melihat FIAT 850 sport di salah satu artikel di Internet. jadilah saya 'Love at 1st sight' sama F850 sport ini. Maka dimulailah proses hunting, kali-kali aja ada yang jual. Pertama ada info ada yang jual 850 sport spider didaerah jawa tengah klo ga salah, lupa kotanya apa, pas di hubungi ternyata sudah laku. Stelah itu sempat beberapa kali lagi ada yg jual, tapi rasanya masih kurang sreg. Sampai akhirnya, melihat di Internet ada yg jual FIAT 850 Sport Coupe, pas dengan yg saya cari. Liat-liat di Foto kondisinya... mantaf, ini dia neh yg saya cari-cari. Dengan rasa deg-degan sms penjual tsb, was-was juga klo sudah terjual pasti kecele lagi deh. Pas direply balik, cihuuyy, mobilnya masih ada. Singkat cerita janjian ketemuan dengan owner, pas dilihat, memang ini dia yg saya cari-cari. Ok deal, saya jadi ambil mobil tsb. Dan diberikanlah DP, serta janjian untuk pelunasan beberapa hari kedepan. Eh, tapi emang dasar belum jodoh, saat-saat terakhir menjelang 'ijab kabul', ada satu dan lain hal yang pada akhirnya proses peminangan ini dibatalkan. Sempet kecewa banget, tapi ah.. tetap semangat!! hunting teruss... Suatu hari browsing di internet, eh nemu iklan 850 sport coupe, yg akan dijual oleh pemiliknya. Dengan rasa H2C, alias harap-harap cemas, sms ke owner untuk menanyakan apakah F-850 nya masih ada. Pas di reply balik, jreng-jreng, alhamdulillah, ternyata masih ada. Langsung saja komunikasi yg intens dengan owner-nya, untuk menggali informasi mengenai kondisi mobil sekaligus negosiasi harga. Sampai akhirnya deal, saya akan meminang mobil tersebut. Hanya saja ada satu kendala... yaitu jarak untuk memboyong mobil tersebut lumayan jauh. Mobilnya ada di Malang cuuyy.. yang klo dilihat tabel jarak antar kota di Indonesia, jarak Jakarta-Malang sekitar 900-an KM. Hmmmmm... berani gak yach mengendarai mobil yg sudah lumayan berumur untuk menempuh jarak sejauh itu. Tapi ah, Bismillah, insya Allah kuat lah, apalagi owner-nya sudah menjamin kondisi mobil dalam keadaan sehat wal 'aFIAT. Untuk menambah keyakinan, SMS ke Pak Gun, beliau terlihat yakin dan menyemangati klo tidak ada masalah mobil tua untuk melakukan perjalanan jauh, 'Ganti OLI aja dulu..' begitu kira-kira wejangan dari Pak Gun. Akhirnya setelah sebelumnya izin cuti selama 2 hari ke bos, berangkatlah saya ke Malang, ditemani abang tercinta yang satu-satunya, untuk memboyong mobil idaman ke kampung halaman di Jakarta. Perjalanan dengan F-850 ini benar-benar perjalanan yang luar biasa dan sangat menyenangkan sekali. Banyak kejadian lucu dan membanggakan selama perjalanan. Yang paling berkesan adalah ketika sampai pekalongan ada mobil merk jepang yg masih anyar, sepertinya mengikuti kami terus. Sampai akhirnya ketika memasuki daerah Pemalang, mereka jalan beriringan disamping mobil, lalu mereka membuka kaca, dan dengan sedikit teriak mereka meminta kami untuk minggir berhenti. Akhirnya kami berhenti dipinggir jalan, begitu keluar mobil, kita langsung berjabat tangan, ternyata mereka kagum sekali dengan mobil ini. Dan lumayan takjub mobil kecil yg tua ini mampu berjalan jauh. Dan salah satu dari mereka langsung bilang, "Pak, mobilnya dijual gak? Klo dijual biar saya bayarin pak". Hahaha...dalam hati saya tertawa, belum juga sampai rumah, eh udah ada yg nawar nih mobil... Akhirnya kita tukar2an no. hp.. Begitu juga kejadian ketika sampai di Jakarta. Sebelum pulang kerumah, mampir dulu ke rumah orang tua. Mobil parkir diluar di pinggir jalan. Saya masuk, bokap masih asyik melihat-lihat mobil diluar. Tiba-tiba bokap masuk rumah, dan bilang bahwa barusan ada orang berhenti, dan menawar mobil ini. Wah..wah..wah..belum juga istri tercinta dirumah melihat mobil ini, eh udah ada 2 orang yg berminat menawar mobil ini. Makin cinta aja deh sama FIAT ini. Emang benar, punya FIAT memang menyenangkan dan membanggakan.... Live is too short to drive ordinary car... drive FIAT (ini tag-nya siapa ya..baca dimilist lucu juga..) Special thanx buat rekan-rekan INDOFIAT terutama Pak Gun, yang telah memberikan banyak pencerahan dan juga menyemangati untuk tidak ragu untuk ambil FIAT ini. Story by Jourdan Sudah sejak sebelum punya mobil saya sangat mengidolakan Fiat Uno, maka pertamakali belajar beli mobil saya segera mencari Fiat Uno-2 tahun 1994. Waktu itu, 1996 awal, saya beruntung mendapatkan Uno-2 bekas dari tangan pertama warnanya abu-abu metalik. Kondisinya sangat orisinil dan mesinnya prima. Saya lupa plat nomornya tetapi ingat nama pemiliknya yakni Pak Stanley Kaunang. Saya beli sekitar 18.5 juta rupiah saja. Karena waktu itu belum tahu tentang perbedaan aliran vintage dan custom maka setelah balik nama saya langsung mencat-ulang dengan warna metalic signal red. Saya pakai selama 2 tahunan dan selama itu pula nggak ada masalah kecuali ganti kalter karena kebentur batu besar. Selainnya, saya punya kenangan sangat manis mengendarai Uno-2 yang belakangan baru saya sadari sangat luar biasa sampai-sampai putra Pak Estu membuat stiker semboyan "I'm not driving fast, just flying low". Gile, serasa naik pesawat sedang terbang rendah. Suatu ketika saya membuat kesalahan fatal yakni menjual Uno-2 tsb atas saran istri saya dan menggantinya dengan hatchback 2 pintu dari merek yang umum. Sejak itu saya gonta-ganti mobil karena kurang puas dengan performanya dan belum menemukan pengganti yang sekencang serta senyaman Uno-2.
Tahun 2009 saya memutuskan untuk menambah lagi koleksi mobil sport 2 pintu dan pilihan jatuh pada Uno Turbo. Pikiran saya, jika sudah pernah kehilangan Uno-2 maka penggantinya harus yang lebih dari itu. Saya pun berburu dan karena terburu-buru di samping belum kenal sahabat-sahabat di Indofiat, maka saya dapat satu unit yang mengecewakan meskipun harganya kemahalan. Selain banyak kropos di dek bawah dan pintu-pintu, cat dan interior kusam, turbonya juga kayaknya nggak maksimal. Setelah saya bangun fisiknya luar dalam, saya baru fokus ke mesin dan kemudian tahu bahwa turbonya nggak main karena sudah oblag menurut Pak Rudi Halim. Saya cari ke mana-mana sampai sekarang belum dapat. Ada sih banyak info tetapi ketika saya telusuri, barangnya memang belum ada selain beberapa tawaran untuk rekondisi saja. Saya sampai-sampai rada frustasi dan mengiklankan di beberapa media massa. Anehnya, begitu ada penawar (yang tentunya sok tahu tapi maunya harga rendah) saya kok nggak rela melepaskannya. Ada banyak cerita lucu tentang karakter para penawar. Ada yang bilang, "Kok dua pintu mahal amat, Pak, yang 4 pintu aja cuma 20 jutaan". Saya capek banget menjelaskan bahwa Untur 2 pintu barang langka, dll. Anak saya yang keberatan Untur mau dijual, pernah bilang "Gini, Pa, bilang aja memang mahal karena harus keluar dana tambahan untuk menutup 2 pintu belakang". Akhirnya, musyawarah keluarga memutuskan bahwa Untur tidak akan pernah dijual karena menjadi salah satu mobil pertama putra saya dan dia berjanji akan merawatnya sebagai warisan. Tentang sparepart turbonya, saya ambil hikmah manisnya saja sambil menunggu turbo set pengganti, bahwa tanpa turbo aja sangat enak dipakai apalagi kalau nanti turbonya bekerja. Malah akhirnya kami sepakat cari saudaranya Untur yang juga sangat limited dan langka di Indonesia yakni Uno Selecta 1994.
Unit tersebut saya dapat di Solo hasil hunting melalui internet. Kondisinya 95% orisinil kecuali antena atas yang sudah diganti dengan model nggak keruan. Sekarang saya sedang membangun Uno Selecta warna champagne itu dengan hunting spareparts di sana-sini. Beberapa spareparts untuk mempernyaman kinerja dapur pacu dan kaki-kaki sudah ganti total. Untuk memperkeren tampilannya, saya ingin melengkapinya dengan aksesori Untur termasuk body kits, spoiler dan airscope-nya. Pemakai Selecta utamanya adalah istri saya. Komentarnya, "Jauh lebih enak ketimbang mobil .... (ia menyebut satu merek kendaraan moderen yang umum)". Tentu aja, nggak apple to apple dong kalau membandingkan Uno Selecta dengan merek itu!
Kabar terakhir: saya baru membeli Fiat 124 Sport tipe AC tahun 1968 warna hitam milik tetangga yang kebetulan baru menemukannya di daerah Tanggerang. Ini adalah tipe idola saya sejak lama. Dengan dua pintu dan dua lampu bulat, kesan klasiknya sangat kental. Mirip Ferrari atau Porsche lama. Rasanya masa perburuan saya masih panjang karena saya harus cari dua kaca samping kiri. Saya masih mempertimbangkan apakah mau membangunnya dengan gaya Vintage atau Custom.
|